Lirik Lagu Fireproof One Direction dan terjemahannya

I think I’m gonna lose my mind
Kupikir aku kan gila

Something deep inside me I can’t give up
Sesuatu di dalam hatiku, tak bisa kutinggalkan

I think I’m gonna lose my mind
Kupikir aku kan gila

I roll and I roll till I’m out of luck
Aku terus berguling hingga habis peruntunganku

Yeah I roll and I roll till I’m out of luck
Yeah aku terus berguling hingga habis peruntunganku

I’m feeling something deep inside
Kurasakan sesuatu di lubuk hati

Hotter than a jet stream burning up
Yang lebih panas dari arus jet yang membara

I got a feeling deep inside
Ada perasaan di lubuk hati

It’s taking, it’s takin’, all I got
Perasaan itu membawa semua yang kumiliki

Yeah It’s taking, it’s takin’, all I got
Yeah, perasaan itu membawa semua yang kumiliki

III
‘Cause nobody knows you baby the way I do
Karena tak seorang pun mengenalmu, kasih, seperti aku mengenalmu

And nobody loves you baby the way I do
Dan tak seorang pun mencintaimu, kasih, seperti cintaku padamu

IV
It’s been so long
Sudah begitu lama

It’s been so long
Sudah begitu lama

V
Maybe you are fireproof
Mungkin kau kebal api

‘Cause nobody saves me baby the way you do
Karena tak seorang pun menyelamatkanku, kasih, seperti kau menyelamatkanku

I think I’m gonna win this time
Kupikir aku kan menang kali ini

Riding on the wind and I won’t give up
Kendarai angin dan aku takkan menyerah

I think I’m gonna win this time
Kupikir aku kan menang kali ini

I’m roll and I roll till I change my luck
Aku terus berguling hingga kuubah peruntunganku

Yeah, I’m roll and I roll till I changed my luck
Yeah, aku terus berguling hingga kuubah peruntunganku

Back to III

‘Cause nobody knows you baby the way I do
Karena tak seorang pun mengenalmu, kasih, seperti aku mengenalmu

And nobody loves you baby the way I do
Dan tak seorang pun mencintaimu, kasih, seperti cintaku padamu

IV
It’s been so long
Sudah begitu lama

It’s been so long
Sudah begitu lama

You must be fireproof
Kau pastilah kebal api

Cause nobody saves me baby the way you do
Karena tak seorang pun menyelamatkanku, kasih, seperti kau menyelamatkanku

Back to III

‘Cause nobody knows you baby the way I do
Karena tak seorang pun mengenalmu, kasih, seperti aku mengenalmu

And nobody loves you baby the way I do
Dan tak seorang pun mencintaimu, kasih, seperti cintaku padamu

IV
It’s been so long
Sudah begitu lama

It’s been so long
Sudah begitu lama

V
Maybe you are fireproof
Mungkin kau kebal api

‘Cause nobody saves me baby the way you do
Karena tak seorang pun menyelamatkanku, kasih, seperti kau menyelamatkanku

Lirik Lagu I’m Yours Jason Mraz

Well, you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you’re so hot that I melted
I fell right through the cracks
Now I’m trying to get back

Before the cool dawn run out
I’ll be giving it my bestest
And nothing’s gonna stop me but divine intervention.
I reckon, it’s again my turn
To win some or learn some.
Chorus
But I won’t hesitate
No more, no more.
It cannot wait,
I’m yours.

Well, open up your mind and see like me,
Open up your plans and damn you’re free.
Look into your heart and you’ll find love, love, love, love.
Listen to the music of the moment, people dance and sing, we’re just one big family
And it’s our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved

So I won’t hesitate
No more, no more.
It cannot wait,
I’m sure.
There’s no need to complicate.
Our time is short.
This is our fate,
I’m yours.

Do you want to come on, scootch on over closer, dear
And I will nibble your ear

I’ve been spending way too long checking my tongue in the mirror
And bending over backwards just to try to see it clearer
But my breath fogged up the glass
And so I drew a new face and I laughed.

I guess what I’ll be saying is there ain’t no better reason
To rid yourself of vanities and just go with the seasons.
It’s what we aim to do.
Our name is our virtue.
Back to Chorus

Well, open up your mind and see like me,
Open up your plans and damn you’re free.
Look into your heart and you’ll find that the sky is yours.
So please don’t, please don’t, please don’t…
There’s no need to complicate.
‘Cause our time is short.
This oh, this oh, this is our fate.
I’m yours.

Oh, I’m yours
Oh, I’m yours
Oh, oh,
Baby, do you believe, I’m yours?
You best believe, you best believe, I’m yours.

Raja Kera yang Budiman

Dilereng gunung Himalaya, ditanah Hindustan, adalah sebuah lembah yang besar dan permai. Ditengah-tengah lembah itu mengalir sungai Gangga yang lebar.

Didalam lembah itu diam berpuluh ribu ekor kera, yang dikelapai oleh seekor rajanya.

Sekalian kera itu sangat menurut perintah rajanya, seekor pun tiada yang berani melawan. Sebuah daripada perintah raja kera itu ialah menjaga buah-buahan disana, supaya jangan sampai ada yang jatuh kedalam sungai dan hanyut kehilir.

“Ingatlah kamu sekalian!” kata raja kera itu. “Jika ada buah-buahan ini hanyut kehilir, celakalah kita semuanya. Buah itu akan sampai ketangan manusia dan mereka itu akan datang beramai-ramai kemari mengusir kita”.

Perintah itu diturut sebaik-baiknya oleh sekalian kera itu. Kalau pohon buah-buahan yang ditepi sungai itu berbuah, sebuah pun tiada dibiarkannya jatuh masuk sungai, sekaliannya habis dimakannya.

Akan tetapi pada suatu hari jatuh juga sebuah diantara buah-buahan itu kedalam sungai. Sebabnya maka jatuh begini: Ada sebuah diantara buah-buahan itu dipalut sarang serangga, sehingga tidak kelihatan. Buah itu masak dan jatuh kedalam air, lalu hanyut kehilir.

Dikota Benares buah itu dapat oleh seorang penjala.

Ketika itu raja kota Benares yang bernama Brahmadatta, sedang bersiram. Baginda bertanya: “Buah apakah itu, hai penjala?”

“Patik pun tiada tahu, tuanku!” sembah penjala.

Maka ditanyakan raja kepada seorang yang utas, yang berdiri ditepi sungai: “Hai utas, buah apakah ini? bagus benar rupanya!”

Sembah orang utas itu: “Kalau patik tiada salah, itulah buah mango, tuanku. Pohonnya tidak ada disini, melainkan dilembah gunung Himalaya. Kata orang rasanya sangat lazat dan tiadalah buah-buahan selazat itu”.

Baginda mencoba memakan buah itu.

Sesungguhnyalah sangat lazat rasanya, sehingga baginda heran dan ta’ajub.

“Barangkali makanan dewa-dewa juga!” pikir baginda. “Hendak kusuruh cari dimana tumbuh pohonnya?”

Keesokan harinya berangkatlah berpuluh-puluh orang mencari pohon mango itu. Baginda pun serta pergi.

Setelah beberapa hari lamanya berjalan, sampailah kelembah gunung Himalaya itu. Ketika itu hari telah malam dan cahaya bulan purnama sangat terangnya.

“Barangkali itulah pohon mango yang kita cari!” sabda raja Brahmadatta. “Tetapi apakah yang bergerak-gerak pada dahannya?”

“Sekawan kera tuanku”, sembah seorang pengiring. “Lihatlah binatang itu memakan buah-buahan!”

“Kepung keliling pohon itu”, titah baginda, “supaya ia tak dapat lari! Besok boleh kita tembaki sekaliannya”.

Pohon mango itu dikepung oranglah.

Adapun raja kera telah tahu akan bahaya itu. Katanya kepada rakyatnya: “Hai anak-anakku sekalian, bahaya yang kita takutkan telah tiba. Manusia itu akan membunuh kita. tetapi engkau sekalian jangan takut. Nanti kucari akal akan melepaskan kita dari bahaya itu. Tetapi hendaklah kau turut segala perintahku!”

Setelah itu raja kera itu melompat keseberang sungai itu dengan susah payah. Dicarinya sehelai akar yang menjulai dipohon kayu. Ujung akar itu dibawanya keseberang kembali. Maksudnya hendak dibuatnya jambatan untuk rakyatnya lari. Tetapi malang, akar itu tidak sampai, kurang sedikit lagi. Apa akal? Dengan tiada berpikir lagi lalu diikatnya kakinya sebelah, kemudian ia bergantung pada dahan kayu.

“Anak-anakku!” seru raja kera itu, “melompatlah kebelakangkudan lari keseberang! Lekas, karena hari telah hampir siang!”

Sebagai topan menderu, rakyat kera yang berpuluh ribu banyaknya itu berlari melalui belakang rajanya. Semuanya selamat, tinggal seekor lagi. Karena takut ketinggalan melompatlah ia dari tempat yang tinggi kebelakang rajanya. Celaka, raja kera mengeluh kesakitan, karena tulang punggungnya patah.

Semua kejadian itu dilihat oleh raja Brahmadatta. Air mata baginda berlinang-linang, karena sangat pilu hatinya. Maka diperintahkan baginda orang menurunkan raja kera yang masih berpegang kuat pada cabang kayu itu.

Setelah sampai dibawah diselimuti baginda dengan kain dewangga dan diberi minuman yang sejuk dan lazat.

Ujar raja Brahmadatta: “Hai kera, sungguh heran aku melihat perbuatanmu. Tubuhmu kau jadikan jambatan untuk menolong orang lain. Tidakkah engkau tahu, karena perbuatanmu itu, nyawamu akan melayang?” “Siapakah engkau ini dan siapakah yang engkau tolong itu?”

“Ya, raja manusia”, ujar raja kera, “hamba ini ialah pemimpinnya dan bapaknya juga. Hamba amat cinta kepada sekalian mereka itu. Sebab itu hamba tidak menyesal akan mati karena menolong sekalian anak-anak hamba itu. Oo.., raja manusia, jika tuanhamba hendak berbahagia pula, janganlah tuanhamba memerintah dengan kekuasaan karena mereka itu rakyat tuanhamba. Tetapi memerintahlah dengan kasih sayang. karena mereka itu anak-anak tuanhamba. Hanya itulah jalan untuk mendapat bahagia bagi seorang raja. Ingatlah, bahwa umur kita ini tidak berapa lama,, yang dapat kita pergunakan untuk berbuat kebajikan. Jika umur hamba tak lama lagi, janganlah tuanhamba lupa akan perkataan hamba ini, o.., raja Brahmadatta!”

Setelah itu raja kera pun matilah.

Raja Brahmadatta sangat sedih hatinya mendengarkan perkataan kera itu. Adalah mutiara jua layaknya, berhamburan dari mulutnya. Supaya baginda jangan lupa akan perkataan indah itu, maka untuk raja kera itu disuruh buatkan baginda sebuah batu candi batu pualam putih, akan jadi kenang-kenangan.

(Bersumber dari buku “Tjeritera Goeroe”)

Lirik Lagu Love is A Beautiful Pain dan terjemahannya

Kimi no kokoro ni tsutsumareta mama ai o chikai…
Nemurenai yoru nando sugite mo nee uketomete
Ima sugu aitai namida tomaranai furetakute
Suki dakara kurushikute

Kimi no koto omou hodo kono namida koboreru no
Kono mama aenai to shitemo
Dare yori suki dakara…

Baibai sakki shita bakari nano ni
‘Aitai’ ga mata afureru no
Kieteshimai souna ano hi no One Kiss
Kimi kara no MEERU o matsu no

Kimi to aeba semaru TAIMU RIMITTO
Futari no jikan daiji ni
BAIBAI shitemo mata aitai
Kimi to no MEERU de mata saikai
Kaeru keshiki machi wa Twilight
Isso no koto kimi o ubai saritai
Kimi no nukumori ga kieru koro
Yume kara samereba genjitsu no Door

Kimi no koto omou hodo kono namida koboreru no
Kono mama aenai to shitemo
Dare yori suki dakara

I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) yoru ga akereba
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) sagasu kimidake
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) me o tojireba
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) My LUV for You
Anata to…

‘Ima sugu aitai’ kagiri aru TIME
‘Eien no ai’ shinjite wa mitai
Hanareru koto kangaeru to mune ga mapputatsu ni sakeru youni itai
Kawai-gena FACE yoru ga akereba hikisaka reru
KAUNTODAUN no youni BREAK
Luv You Baby Luv You Baby kotoba wa FREEZE
Kyou ga hajimatta matana See You…

Omoeba omou hodo
Furi tsumoru ‘omoi’ aeba au hodo
Soba ni itai to tsuyoku negau hodo ashita sae mienakute
‘Eien’ itsuka mitsukeru made
Hanashitaku wa nai hanaretaku wa nai
Luv You Baby Luv for You
Kimi o hanasanai

Kimi no koto omou hodo kono namida koboreru no
Akenai yoru no naka hitori
Kimi shika mienakute…

Kimi no kokoro tsutsuma reta mama ai o chikai
Nemurenai yoru nando sugite mo nee uketomete
Ima sugu aitai namida tomaranai furetakute
Suki dakara kurushikute

I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) yoru ga akereba
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) sagasu kimidake
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) me o tojireba
I LUV YOU (LUV YOU) LUV YOU (LUV YOU)
LUV YOU (LUV YOU) My LUV for You
Anata to…

Dalam hatimu yang dalam keadaan terselimuti sumpah cinta
Berulang kali menghabiskan malam tanpa tidur, terimalah
Sekarang aku ingin segera bertemu, tangisanku tidak terhenti, aku ingin menyentuhmu tapi tak bisa
Karena aku menyukaimu sehingga menyakitkan

Semakin sering ku memikirkanmu semakin banyak pula air mata yang jatuh
Walau terus begini tidak bertemu pun
Aku lebih menyukaimu dari siapapun

Padahal barusan saja mengucapkan selamat tinggal
‘Aku ingin bertemu’ kembali mengalir meluap
Seolah-olah akan menghilang seperti Satu Ciuman hari itu
Menunggu email dari dirimu

Saat bertemu denganmu batas waktu semakin mendekat
Menghargai waktu dari kita berdua
Walaupun setelah mengucapkan selamat tinggal aku ingin kembali bertemu
Kembali bertemu dengan email darimu
Pemandangan kota saat ku pulang adalah senja
Aku ingin merampas membawa pergi waktu saat bersama denganmu
Saat kehangatanmu akan menghilang
Saat sadar dari mimpi ke pintu kenyataan

Semakin sering ku memikirkanmu semakin banyak pula air mata yang jatuh
Walau terus begini tidak bertemu pun
Aku lebih menyukaimu dari siapapun

Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) ketika malam menjadi siang
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) mencari hanya kau seorang
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) ketika aku menutup mataku
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) cintaku untukmu
Untukmu…

‘Sekarang aku ingin segera bertemu’ selama ada waktu
‘Cinta abadi’, sepertinya aku mempercayainya
Memikirkan tetang dapat berpisah dadaku terasa sakit seperti terbelah menjadi dua
Malam berwajah manis ditarik saat pagi datang
Seperti hitungan mundur yang hancur
Mencintaimu sayang mencintaimu sayang kata-kata itu membeku
Hari ini telah dimulai sampai jumpa lagi

Ketika mengingat semakin teringat
‘Perasaan’ bertambah tebal ketika bertemu semakin sering bertemu semakin itu pula
Aku ingin berada disampingmu dan berdoa sepenuh hati sampai hari esok bahkan tidak dapat terlihat
Sampai suatu hari ‘keabadian’ itu ditemukan
Aku tidak akan melepaskan, aku takkan berpisah
Mencintaimu sayang cinta untukmu
Kau takkan kulepaskan

Semakin sering ku memikirkanmu semakin banyak pula air mata yang jatuh
Sendirian didalam malam yang tidak pernah berganti
Tidak ada yang dapat kulihat selain dirimu

Hatimu yang dalam keadaan terselimuti sumpah cinta
Berulang kali menghabiskan malam tanpa tidur, terimalah
Sekarang aku ingin segera bertemu, tangisanku tidak terhenti, aku ingin menyentuhmu tapi tak bisa
Karena aku menyukaimu sehingga menyakitkan

Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) ketika malam menjadi siang
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) mencari hanya kau seorang
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) ketika aku menutup mataku
Aku mencintaimu (mencintaimu) mencintaimu (mencintaimu)
Mencintaimu (mencintaimu) cintaku untukmu
Untukmu…

DRAMA BASA JAWI ANDHE ANDHE LUMUT

DRAMA BASA JAWI

ANDHE ANDHE LUMUT

 

 

 

 

 

SMP NEGERI 1 CLURING

Dalan Basuki Rahmad No. 56 Cluring, Banyuwangi

2015

 

 

 

 

 

Dening :

Hana Fannuely Christanto

 

 

 

 

SMP NEGERI 1 CLURING

Jalan Jendral Basuki Rahmad No. 56 Cluring, Banyuwangi

 

 

 

 

ATUR PANGIRING

 

            Puji syukur konjuk ing ngarsanipun Gusti ingkang Maha Kuwaos dene panyerat sampun saged ngarmpungaken Naskah Drama Basa Jawa kangge tugas Basa Jawa.

Mboten kalimengan, kula ngucapaken matur sembah nuwun dhateng Bapak Subiyantoro, M.Pd, sela adalem mustaka sekolah, Ibu Ramini, S.Pd, sela adelem guru Basa Jawa SMP 1 Cluring, ugi pihak-pihak benten ingkang mbiyantu ngasta Naskah Drama Basa Jawa menika.

Kula ngajeng-ajeng drama menika saged nggina kagem para pamaos ugi saged mimbeti wawasan kagem rayi-rayi kelas.

Cluring, 19 September 2014

Panyerat

DAFTAR ISI

 

JUDUL DRAMA

ATUR PANGIRING

DAFTAR ISI

NASKAH DRAMA

PARAGA

NJLENTREHAKE ISINE DRAMA

DUDUTAN

PANUTUP

PANYARUWE

NASKAH DRAMA

ANDHE ANDHE LUMUT

 

Prolog                    :     Kadadosan ing negari ingkang gimah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Wonten lare estri mlampah mbonten tentu tujuan. Sedaya priyantun ingkang mriksaninipun kaliyanipun rumaos kasengsem kaliyan kendahan pasuryan estri punika. Ngantos panjenenganipun kendel teng ngajeng dalem sapriyantun randha ingkang ngagungani tiga putra estri.

Babak 1

Cah ayu                  :    Sampurasun!!

Mbok Randha         :    Rampes. Ana apa, cah ayu? Kok mlaku dhewean. Ana butuh apa? Ayo lungguh sek, kene!

Cah ayu                  :    Kawula nembe ngupadi panggen kagem nyipeng, Bu.

Mbok Randha         :    Lha omahmu dhewe ning endhi, nduk?

Cah ayu                  :    Kawula mboten nggadah griya, Bu.

Mbok Randha         :    Ya wis, sampeyan tak paringi panggon nginep. Tapi sampeyan kudu gelem ngewangi aku. Piye, gelem opo ora?

Cah ayu                  :    Kawula kersa, Bu. Matur sembah nuwun ingkah kathah, Bu.

Mbok Randha         :    Iya, iya. Lha, saiki jenengmu sapa, nduk?

Cah ayu                  :    Priyantun-priyantun asring ngaturi kawula wasta Klenting Kuning, Bu.

Mbok Randha         :    Oh, ya wis. Ayo melu aku, tak weruhi kamarmu.

Banjur Klenting Kuning tumut Mbok Randha ugi diangkat dados putra. Saben dinten mbiyantu Mbok Randha ugi ngladosi Klenting Abang, Klenting Biru, lan Klenting Ijo, putra-putranipun Mbok Randha. Klenting-klenting mboten seneng kaliyan wontenipun Klenting Kuning, kejawi Klenting Biru. Para Klenting ngasta sanyamlengipun piyambak wonten Klenting Kuning. Sedayanipun Klenting Kuning ingkang numindakaken. Piyambakipun sedaya salajeng ngupadi-ucal kalepatanipun Klenting Kuning kersanipun piyambakipun sedaya saged ndukani Klenting Kuning.

Mukawis dinten, wonten atur-atur saking dhusun sisih.

Babak 2

Pangendika             :    Ulem-ulem!! Ulem-ulem!! Mangga dipunmirengaken!! Mbok Randha Dhadhapan saking Dhusun Dhadhapan nembe ngupadi mantu. Sedaya estri ingkang taksih kenyo pareng numuti sayembara menika ingkang dipunwontenaken teng dalemipun Mbok Randha Dhadhapan. Semanten, matur sembah nuwun.

Klenting Abang      :    Bu, Bu, ngga kita tumut sayembara punika. Samangertos kawula, putranipun Mbok Randha Dhadhapan punika putra sae.

Klenting Ijo            :    Nggih, Bu. Mbak Abang leres, asmanipun Andhe Andhe Lumut.

Mbok Randha         :    Oalah, Andhe Andhe Lumut? Iya, iya. Ya wes, sesuk esuk ndang siap-siap. Biru, kowe melu apa ora?

Klenting Biru          :    Tumut kepundi, Bu?

Mbok Randha         :    Iku mau lho, ulem-ulem saka Mbok Randha Dhadhapan.

Klenting Biru          :    Nuwun inggih partela kawula tumut, Bu.

Klenting Abang      :    Nanging, Klenting Kuning mboten betah tumut.

Mbok Randha         :    Lha, nyapo?

Klenting Ijo            :    Mangke menawi piyambakipun tumut, sinten ingkang ngreksa dalem, ngresikaken sedayanipun, ugi benten dadosipun?

Mbok Randha         :    Iya, ya?! Ya wes. Klenting Kuning!!!!!

Klenting Kuning     :    Nggih, Bu. Wonten punapa?

Mbok Randha         :    Kowe gak usah melu sayembara, ya. Ning omah ae.

Klenting Kuning     :    Lha, sedayanipun tumut punapa kula mboten?

Klenting Abang      :    Sampeyan mboten betah nderek, ing griya kemawon njagi griya. Kakang Andhe Andhe Lumut mesti mboten ampe estri ambed uga reged kados sampeyan. Mestinipun kula, Mbak Biru, utawi adhi Ijo.

Klenting Biru          :    Dek Abang, gak oleh ngunu. Klenting Kuning, sampeyan oleh melu, tapi kabeh pekerjaan omah kudu wes mari.

Klenting Kuning     :    Inggih, Mbak.

Lajeng, benjingipun sedayanipun jengkar datheng Dhusun Dhadhapan kajawi Klenting Kuning amargi penyambut damelanipun dereng mantun. Teng dalemipun, Klenting Kuning muwun amargi mboten saged ndherek teng Dhusun Dhadhapan. Kala punika, wonten peksi Bangau Thongthong midhanget tuwunan Klenting Kuning.

Babak 3

Bangau                   :    Duh, cah ayu. Ana apa tho kok nangis?

Klenting Kuning     :    Sampeyan niki sinten, kok saged ginem?

Bangau                   :    Kula Bangau Sekti, cah ayu ana masalah apa tho?

Klenting Kuning     :    Kula mboten saged ndherek sedherek-sedherek kula teng sayembara Mbok Randha Dhadhapan. Padahal kula ajenge kepanggih kaliyan Kakang Panji.

Bangau                   :    Raden Ajeng Sekartaji, sembah kula Raden. Sakmenika, punapa ingkang saged kula damelaken?

Klenting Kuning     :    Tulung resikaken griya niki, kajengipun kula saged kepanggih kaliyan Kakang Panji.

Bangau                   :    Punika prakawis gampil Raden. Ngoten tho?

Klenting Kuning     :    Matur nuwun sanget Bangau Sekti. Sakniki kula saged kepanggih kaliyan Kakang Panji.

Lajeng, Klenting Kuning utawi Raden Ajeng Sekartaji jengkar datheng Dhusun Dhadhapan. Teng perbatasan, wonten lepen wiyar ingkang dados panggenipun Yuyu Kangkang.

Babak 4

Yuyu Kangkang    :    Duh Mbok Randha karo anak-anake, arep ning ndhi kok kesusu?

Mbok Randha        :    Dudu urusanmu, saiki terno aku karo anak-anakku sing ayu iki menyang seberang kono supaya aku bisa budhal ning Desa Dhadhapan.

Yuyu Kangkang    :    Oleh wae, tapi anak-anakmu kuwi kudu gelem tak ambung.

Mbok Randha        :    Yen diijoli dhuwit gelem opo ora?

Yuyu Kangkang    :    Dhuwit iku wes biasa mbok, anak-anakmu kan ayu kongkon ngambung aku siji-siji.

Klenting Abang     :    Bu, kula mboten kersa. Dek Ijo kemawon.

Klenting Ijo           :    Moh, mbak. Mbak Biru kemawon, Bu.

Klenting Biru         :    Aku yo gak gelem, dek. Kados pundi, Bu?

Mbok Randha        :    Wes, lah. Dituruti wae, masiyo lho Andhe Andhe Lumut ora weruh. Ya, wes Yuyu Kangkang, tapi kowe kudu janji ya.

Yuyu Kangkang    :    Iya, iya, Mbok Randha.

Lajeng, para Klenting ngaras Yuyu Kangkang kajawi Klenting Biru amargi panjenenganipun saged ngapusi Yuyu Kangkang. Nalika Klenting Kuning langkung, Yuyu Kangkang mboten wantun macem-macem. Teng Dhadapan, kathah tyang estri ngrantos Andhe Andhe Lumut miyos saking dalemipun.

Babak 5

Klenting Abang     :    Bu, kados pundi pasuryan kawula? Punapa sampun sae?

Klenting Ijo           :    Kawula ugi, Bu. Kados pundi?

Mbok Randha        :    Iya, wes ayu kabeh. Kenting Biru, coba saiki kowe nyeluk Andhe Andhe Lumut, kongkonen metu.

Klenting Biru         :    Nggih, Bu. Sampurasun!! Mbok Randha Dhadhapan, kawula kaliyan sedherek-sedherek kawula kersa ndherek sayembara.

Mbok Dhadapan    :    Rampes!! Ya sek, enteni kunu ya cah ayu. Le, rene le.

Andhe Andhe        :    Nggih, Bu. Wonten punapa?

Mbok Dhadhapan  :    Iki lho, calonmu wes padha teko. Ndhang pilihen.

Andhe Andhe        :    Mbonten enten ingkang cocok, Bu.

Mbok Dhadhapan  :    Didelok sing bener tho, le. Mosok semene akehe ora ana sing cocok?

Andhe Andhe        :    Wonten, Bu. Nanging dereng rawuh.

Klenting Kuning    :    Sampurasun!!

Sedaya                   :    Rampes!!

Mbok Dhadhapan  :    Duh, Gusti. Kok ayu temenan tho bocah iki?! Le, apa iki sing kokenteni?

Andhe Andhe        :    Nggih, Bu. Asmanipun Raden Ajeng Sekartaji, sesandhingan kawula Raden Panji Asmara.

Mbok Dhadhapan  :    Ya, wes. Sampeyan tak restui bali menyang kapuntrenan. Dhayoh kawula sedaya, putra kawula menika kasinggahanipun Raden Panji Asmara, panjenenganipun nembe madosi Raden Ajeng Sekartaji ingkang ical saking kapuntrenan. Sakmenika panjenenganipun sampun kepanggih ugi kersa bali teng kapuntrenan.

Klenting Abang     :    Bu, Raden Ajeng Sekartaji? Bu, lho kok?!

Klenting Biru         :    Iya, aku wes nduga, dek. Makane tho, aja gampang ketipu ing penampilane. Sapa weruh wong kuwi nduwe pangkat sing luwih dhuwur saka adhewe. Wes, saiki ndang njaluk sepura ning Raden Ajeng Sekartaji.

Klenting Ijo           :    Raden, kawula nyuwun ngapunten, nggih.

Klenting Abang     :    Kawula ugi, Raden.

Klenting Kuning    :    Nggih. Mboten punapa, kok. Wes, sakmenika Ibu lan Klenting-Klenting ndherek kula teng kapuntrenan.

Para Klenting         :    Matur sembah nuwun sanget, Raden.

Lajeng Mbok Randha ugi para Klenting ndherek Raden Panji Asmara ugi Raden Ajeng Sekartaji datheng kapuntrenan.

*TAMAT*

PARAGA

 

Tokoh Paraga
Klenting Kuning Sabar lan tekun
Mbok Randha Cerewet nanging perhatian
Klenting Biru Cerdik
Klenting Abang Tindake ala
Klenting Ijo Manutan nanging ora becik lakune
Yuyu Kangkang Serakah
Andhe Andhe Lumut Setya
Mbok Randha Dhadhapan Sabar lan konsisten

NJLENTREHAKE ISI DRAMA

 

Klenting Kuning alias Raden Ajeng Sekartaji, mlaku tanpa tujuan. Banjur diangkat anak karo Mbok Randha, Ibune para Klenting. Klenting Abang lan Klenting Ijo ora seneng karo Klenting Kuning, nanging Klenting Biru wis krasa yen Klenting Kuning iku asline Raden Ajeng Sekartaji.

Sawijining dina, ana ulem-ulem saka Mbok Randha Dhadhapan yen dheweke ape golek mantu gawe anak lanange kang asma Andhe Andhe Lumut alias Raden Panji Asmara. Kabeh Klenting bisa budhal ning Desa Dhadhapan kajaba Klenting Kuning amarga pegaweane durung mari. Klenting Kuning nangis, nanging ana Bangau Thongthong sing asline titisan dewa.

Banjur, Klenting Kuning budhal menyang Desa Dhadhapan. Yuyu Kangkang ora wani ngganggu amarga wes ngerti yen Klenting Kuning iku asline Raden Ajeng Sekartaji. Sawise ketemu, Raden Panji Asmara lan Raden Ajeng Sekartaji urip langgeng selawase bareng Mbok Randha lan para Klenting.

DUDUTAN

 

       Dados priyantun ampun gampil mirsani saking kahanan njawinipun, ugi ampun remen awon dhateng priyantun benten. Saged kemawon priyantun punika nggadah kalenggahan langkung inggil saking kita sedaya. Ugi ampun serakah, amargi serakah saged dadosaken priyantun sombong ugi mboten dipunremeni priyantun benten. Dados priyantun kedah sabar lan tlatos saged kepareng sugeng ingkang sae.

PANUTUP

 

Sakmenika naskah drama ingkang saged kula susun. Puji syukur marang Gusti Kang Maha Agung, kula sampun dipunwenehi kesehatan saengga kula saged ngrampungaken tugas punika. Lan kula ngaturaken matur suwun ingkang kathah dumateng Bu Ramini kalian rencang-rencang. Cekap semanten mugi-mugi naskah drama punika saged bermanfaat.

PANYARUWE

 

Kula sadar naskah punika taksih wonten kirang langkungipun, kula nyuwun dumateng Bu Ramini, lan rencang-rencang menehi kritik lan saran damel naskah drama punika.

Fabel Si Kancil Kena Batunya

 

Pada suatu hari yang sejuk, kancil berjalan di tengah hutan sambil bernyanyi ria.

“Aku Si Kancil
Binatang yang cerdik
Punya banyak akal
Akal pandai, akal cerdik
Semua akal aku punya
Aku Si Kancil
Binatang pemberani, siapa pun takut padaku
Gajah, Kerbau, Buaya, ayo maju lawan aku!!”

Setelah lelah berkeliling, Kancil pun berhenti di tepian sungai untuk minum dan beristirahat. Melihat air sungai yang bening, Kancil lalu bergumam dan tersenyum, “Hmm, sungai ini saja mampu menggambarkan ketampananku dan kegagahanku. Pasti semua makhluk di rimba ini juga tahu bagaimana kecerdikan dan kepandaianku.”

Tanpa disadarinya, di seberang sungai seekor Siput memperhatikannya dengan seksama lalu berteriak pada Kancil dan bergeleng kepala, “Hey, Kancil!!”

“Aku??” Kancil menjawab dengan nada mengejek. “Ada apa hewan kecil?? Kau membutuhkan pertolonganku, ha?!”

“Bukan, bukan itu yang ku mau. Aku hanya ingin bertanya, mengapa kau sangat berbangga diri seperti itu??” jawab Siput dengan nada balas mengejek.

“Bukannya pantas, hewan cerdik, pandai, dan pemberani sepertiku berbangga diri?! Tidak seperti kau, kecil, jalannya lambat, tak bisa apa-apa pula.” Kancil membusungkan dadanya.

“Jangan salah kau Kancil, kalau kau berani, kita bertanding!!” Siput mulai geram.

“Apa katamu?? Bertanding?? Denganku?? Bertanding apa wahai Siput kecil?? Aku tak yakin?! Hahaha….” Kancil tertawa.

“Oh, jadi kau takut?!” Siput menyeringai mencoba membuat geram Kancil.

“Sembarangan omongmu itu!! Tidak, aku tidak takut!! Ayo!! Mau tanding apa kita??” Kancil menghentakkan kakinya.

“Bertanding lari menyusuri sungai ini dari danau sampai air terjun, sehingga melawan arus. Kau berlari di tepi barat sungai ini, dan aku di tepi timur sungai ini. Bagaimana?!”

“Itu sangat mudah, tidakkah kau ingin membuatnya lebih sulit??” Kancil mengejek.

“Aku hanya kasihan padamu, aku takut kalau-kalau kau kalah lalu meangis. Hahaha….” Siput tertawa mengejek.

“Baiklah Siput, kalau itu yang kau mau kita bertemu minggu depan di danau. Akan kuberitahu seluruh penduduk hutan, agar mereka tahu siapa yang pantas disebut pemenang dalam pertandingan kita nanti!!” lalu Kancil berlari dengan hati panas meninggalkan Siput.

Setelah Kancil pergi, Siput segera mengumpulkan teman-temannya lalu menyusun strategi untuk mengalahkan Kancil yang sombong itu.

Seminggu kemudian, seluruh penduduk hutan telah berada di danau dan air terjun untuk menyaksikan pertandingan itu. Sementara itu, Siput dan kawan-kawannya telah berada di posisi mereka masing-masing. Strategi mereka, setiap Siput harus bersembunyi di balik bongkahan batu. Jika Kancil memanggil, Siput yang bersembunyi di balik batu harus segera muncul sehingga terkesan Siput selalu berada di depan Kancil.

Si kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai. Kancil berjalan santai, sedang Siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa langkah, kancil memanggil Siput. Tiba-tiba siput muncul di depan Kancil sambil berseru, ”Hai Kancil! Aku sudah sampai sini.” Kancil terheran-heran, segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil Siput lagi. Ternyata Siput juga sudah berada di depannya. Akhirnya Kancil berlari, tetapi tiap ia panggil Siput, ia selalu muncul di depan Kancil. Keringatnya bercucuran, kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir sampai di air terjun, ia memanggil Siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir Siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi pemenang perlombaan.

Si Kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis dan napas tersenggal-senggal Kancil berkata, ”Kancil memang tiada duanya.” Kancil dikagetkan ketika ia mendengar suara Siput yang sudah duduk di atas batu besar.

“Oh kasihan sekali kau Kancil. Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari??” ejek siput.

“Tidak mungkin!! Bagaimana kau bisa lebih dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang” seru Kancil.

“Sudahlah akui saja kekalahanmu!!” ujar Siput.

Kancil masih heran dan tak percaya kalau ia dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui kekalahannya.

“Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan mereka” ujar Siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah Kancil dengan rasa menyesal dan malu.

CINDERELLA

Once upon a time, there was a kind girl named Cinderella who lived with her step mother and two step sisters. Her step mother made Cinderella do the hardest works in the house, but Cinderella never complain about that’s all. She do her job happily with sing a song.

“There’s a place in your heart and I know that it is love… And this place could be much brighter than tomorrow… And if you really try you’ll fell there’s no hurt or sorrow…”

Cinderella work lively, until one day her sisters received an invitation to the ball that the king’s son was going to give at the palace. They were excited about this. At last, the day of the ball came, and away went the sisters to it. Cinderella couldn’t help crying after they had left.

“Why oh why they don’t permit me go along with them to go to the ball? There something wrong from me?” Cinderella crying and crying in the side of a river behind her house.

Suddenly a fairy godmother came and asked her, “Why are you crying, Cinderella? There something wrong?”

“Oh my fairy, why I can’t go to the ball with my family? Whereas, I want so much to go to the ball. There something wrong from me?” Cinderella said sadly.

“No, Cinderella. They just give you a moment to prepare yourself. Let me show you something! Stand up there, Cinderella.” said the fairy godmother.

Magically, the fairy godmother change a pumpkin into a fine coach and mice into a coachman and two footmen. Her godmother tapped Cinderella’s raged dress with her wand, and it became a beautiful gown. Then she gave her a pair of pretty glass slippers. “Now, go there Cinderella. But remember, you must leave before midnight.”

Cinderella was having a wonderfully good time. She danced again and again with the prince.

“Oh my princess, may I know your name?” the prince ask to Cinderella.

“My name Cinderella, your majesty.” said Cinderella bashful.

Suddenly the clock began to strike twelve and rang… Ding.. Dong.. Ding.. Dong..

She ran toward the door as quickly as she could, and one her glass slipper was left behind.

A few days later, the prince proclaimed that he would marry the girl whose feet fitted the glass slipper. Cinderella’s step sisters tried the slipper, but too small.

“It’s too small for me, but I will try again.” said Cinderella’s first sister.

“Don’t do that, Miss. This slipper will be broken if you force it.” said the guard.

“Let me try this, Sir.” Cinderella came from her room. And finally the prince found Cinderella’s foot which fitted with the slipper. Finally she was driven to the palace. They were married and live happily ever after.

Story of My Life